Hukum Suara.com, CIKARANG PUSAT – Bagi para pelintas Jalan Tegal Danas di Desa Hegarmukti, kegelapan bukan sekadar perkara hilangnya cahaya. Ia adalah kecemasan yang berlipat ganda saat tuas gas motor ditarik dalam-dalam, mengantisipasi lubang jalanan atau bayang-bayang kejahatan yang mengintai di balik gulita.
Namun, keresahan warga itu resmi berakhir pada Senin (25/5/2026). Tim Penerangan Jalan Umum (PJU) Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi bergerak taktis, membelah malam dengan misi tunggal: mengembalikan hak warga atas jalan yang terang dan aman.
Sebuah kabel utama yang putus sempat melumpuhkan urat nadi pencahayaan di kawasan strategis Cikarang Pusat ini. Kerusakan tersebut bukan perkara sepele; ia adalah ancaman nyata bagi keselamatan ribuan pengendara dan pemicu potensial aksi street crime.
Menjawab alarm bahaya tersebut, armada oranye andalan Dishub langsung diterjunkan ke lokasi. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban perawatan rutin, aksi respons cepat ini adalah manifesto nyata dari pelayanan publik yang adaptif. Petugas bergerak gesit memanjat, menyambung kembali urat-urat kabel yang terputus, dan memastikan daya mengalir sempurna ke lampu-lampu jalan.
"Penerangan jalan adalah hak dasar publik. Ketika ada sistem yang lumpuh, respons cepat adalah harga mati. Kami tidak ingin menoleransi risiko sekecil apa pun yang mengancam keselamatan warga," tegas salah satu personel tim teknis di sela-sela perbaikan.
Melalui penetrasi taktis ini, Dishub Kabupaten Bekasi membuktikan manifesto kerja mereka yang bertumpu pada tiga pilar utama:
Meremukkan ruang gerak pelaku kriminal dengan menghapus blind spot atau titik mati yang gelap.
Membuka jarak pandang (visibilitas) maksimal bagi pengendara demi menekan angka kecelakaan fatal.
Menghidupkan kembali roda ekonomi lokal dan interaksi sosial masyarakat Hegarmukti tanpa dihantui rasa was-was.
Aksi di Jalan Tegal Danas ini menjadi potret kecil dari transformasi besar pelayanan publik Kabupaten Bekasi yang kian dinamis. Lewat langkah preventif dan korektif yang konsisten, negara hadir bukan melalui retorika, melainkan lewat seberkas cahaya yang kembali menyala di sudut jalan.
Kini, malam di Tegal Danas tak lagi mencekam. Di bawah pendar lampu yang kembali normal, warga bisa bernapas lega, memastikan perjalanan pulang ke rumah tak lagi dibayangi ketakutan.
Penulis : Kinah
