Sinergi Budaya & Birokrasi: Cara Inovatif Sri Rahayu "Jemput Bola" Aspirasi di Karawang


Hukum suara.com, KARAWANG – Menghilangkan kesan kaku birokrasi dan sekat antara rakyat dengan wakilnya bukan perkara mudah. Namun, pada Sabtu (11/4/2026), Sri Rahayu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, berhasil mengubah paradigma tersebut lewat gelaran Festival Rakyat Berbasis Budaya.

​Bertempat di Adiarsa Barat, acara ini bukan sekadar panggung seni, melainkan sebuah ekosistem pelayanan publik yang "hidup" dan menyatu dengan masyarakat.

​Biasanya, warga harus meluangkan waktu khusus ke kantor dinas untuk mengurus dokumen. Di festival ini, justru loket pelayanan yang mendatangi warga. Strategi "jemput bola" ini terbukti ampuh; tercatat lebih dari 800 orang hadir memadati area pelayanan sejak pagi hari.


Pengurusan KTP dan KK kilat oleh Disdukcapil. 

Perpanjangan STNK (Samsat) dan SIM (Polres Karawang) di lokasi.C

ek kesehatan gratis dari RSUD & RS Fikri, hingga vaksinasi hewan peliharaan dari dinas terkait.​

"Kami ingin masyarakat merasa dilayani dengan cara yang menyenangkan. Ini adalah solusi instan sekaligus ruang bagi saya untuk mendengar langsung apa yang menjadi keluhan mereka," ungkap Sri Rahayu, Anggota Komisi I DPRD Jabar tersebut.​

Festival ini juga menjadi jawaban atas keresahan warga terhadap harga pangan. Sri Rahayu menggandeng Bulog dan Dinas Pertanian untuk menghadirkan intervensi pasar yang nyata.

Program sembako murah dan tebus murah sayuran menjadi magnet utama bagi kaum ibu. 

Puluhan pelaku usaha lokal diberi ruang untuk menjajakan produk mereka, menciptakan perputaran ekonomi langsung di lokasi acara.

Sesuai namanya, festival ini tetap menjadikan budaya sebagai roh utama. Alunan musik tradisional dan penampilan seniman lokal menghidupkan suasana dari fajar hingga petang. Adiarsa Barat sejenak berubah menjadi panggung apresiasi seni lintas generasi.​

"Tanpa kolaborasi dari para seniman dan dukungan masyarakat Adiarsa Barat, acara ini tidak akan memiliki nyawa," tambah Sri dengan nada haru saat menutup rangkaian acara.​

Apa yang ditampilkan Sri Rahayu di Karawang bukan sekadar seremoni serap aspirasi (reses). Ini adalah sebuah inovasi politik.​

Dengan menggabungkan tiga pilar utama—Pelayanan Publik, Pemberdayaan Ekonomi, dan Pelestarian Budaya—kegiatan ini menciptakan multiplier effect yang nyata. Birokrasi menjadi tidak lagi menakutkan, ekonomi rakyat bergerak, dan identitas lokal tetap terjaga.​

Di tangan yang tepat, politik ternyata bisa tampil begitu merakyat, solutif, dan penuh warna. 

Penulis : Kinah