Di Bawah Langit Rawagede: Saat Seragam Loreng Bersimpuh di Depan 431 Nisan Sunyi

 


Hukum Suara.com , KARAWANG – Jarum jam baru saja melewati angka sepuluh malam pada Kamis (9/4/2026), namun Desa Balongsari tidak sedang tidur. Udara Rawamerta yang menusuk tulang seolah membawa kembali aroma tanah basah dan kesunyian mencekam, persis seperti fragmen kelam 79 tahun silam.

Di sinilah, ribuan anggota LSM Laskar NKRI mengakhiri konvoi panjang mereka. Bukan untuk hura-hura ulang tahun, melainkan untuk sebuah ritual yang mereka sebut sebagai "pencucian jiwa" di Taman Makam Sampurna Raga, Monumen Rawagede.

Suasana mendadak magis saat bait-bait puisi "Sukmaku di Rawagede" meluncur dari bibir sang maestro sejarah, Sukarman. Di bawah temaram lampu monumen, suara Sukarman tidak hanya bergema di telinga, tapi merasuk ke pori-pori setiap anggota Laskar yang hadir.



Ia menceritakan kembali drama 9 Desember 1947. Tentang ratusan nyawa sipil yang melayang di ujung bayonet dan peluru tentara Belanda. Bagi ribuan massa berseragam loreng itu, Rawagede malam itu bukan sekadar destinasi wisata sejarah, melainkan sebuah "ruang sidang" di mana mereka diuji: Seberapa besar cinta mereka pada negeri ini?

"Laskar NKRI tidak datang untuk mengemis eksistensi. Kami datang ke sini untuk menundukkan kepala, memungut sisa-sisa semangat dari para syuhada yang tubuhnya dulu berseragam tanah demi Indonesia," tegas seorang pengurus di sela khusyuknya acara.

Puncak emosional terjadi saat H. ME. Suparno (Ketua Umum DPP Laskar NKRI) dan Drs. H. Nana Taruna S MM (Sekjen) memimpin ritual tabur bunga. Di balik nisan-nisan putih yang tertata rapi, ada percakapan batin yang tak terdengar. Ritual Tawasulan yang digelar kemudian menjadi jembatan spiritual, mengirimkan doa-doa yang melangit di tengah heningnya malam Rawamerta.

Kehadiran sosok muda seperti Dea Eka Rizaldi SH, Anggota DPRD Jawa Barat, memberikan sinyal kuat bahwa estafet patriotisme ini sedang dioper ke generasi berikutnya. Di antara nisan-nisan itu, politik praktis tampak kerdil dibanding pengorbanan para pahlawan.

Uniknya, meski dibalut suasana haru, kegiatan ini ditutup dengan kehangatan yang kontras: Makan bersama. Hingga pukul 01.00 dini hari, ribuan anggota duduk melingkar, berbagi makanan di atas tanah yang dulu pernah bersimbah darah.

Ini adalah bentuk inovasi dalam berorganisasi; bahwa kekeluargaan dibangun di atas fondasi sejarah. Makan bersama di lokasi genosida bukan berarti tidak hormat, melainkan simbol bahwa hidup terus berjalan, dan tugas yang hidup adalah menjaga perut rakyat tetap kenyang dan martabat bangsa tetap tegak.

Malam itu, Monumen Rawagede berhenti menjadi tumpukan semen dan perunggu yang mati. Melalui kehadiran Laskar NKRI, monumen itu kembali "bernapas".

Ulang tahun ke-19 ini menjadi saksi bahwa Laskar NKRI sedang berevolusi. Mereka tidak lagi hanya dikenal dengan deru mesin di jalanan, tapi juga dengan keheningan doa dan air mata di pusara pahlawan. Rawagede telah mencuci loreng mereka dengan nilai-nilai yang lebih murni: Kesetiaan.

Penulis : Kinah