Hukum Suara. Com, Ada pemandangan yang berbeda tatkala sebuah partai politik merayakan usianya yang ke-25. Di saat panggung-panggung seremonial biasanya dipenuhi pidato normatif, pelataran Gerai Tri Bisnis Center, Karawang, justru menjelma menjadi ruang gawat darurat kemanusiaan yang dikemas hangat pada Minggu, 6 September 2026. Di bawah langit biru, 600 kader militan tidak sedang berhajat memobilisasi massa, melainkan mengantre dengan tertib untuk menyetorkan lengan mereka demi sebuah stetoskop dan cek tensi gratis.
Di balik denyut kegiatan ini, legislator DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, memilih membumikan usia perak partai ke dalam tindakan preventif yang paling mendasar. Bagi Cellica, politik hari ini tidak boleh lagi berjarak dari dapur dan urat nadi kesehatan warga.
Sorotan tajam mengalir tatkala Cellica mengambil mikrofon. Alih-alih beretorika panjang lebar soal konstelasi kekuasaan, ia memilih membongkar realitas biologis yang sering diabaikan: ancaman nyata dari penyakit tidak menular yang mengintai tanpa aba-aba.
"Lagi padel, lagi bulutangkis, bahkan lagi tidur pun bisa kena jantung," cetusnya di hadapan ratusan kader yang menyimak lekat.
Gaya bertuturnya lugas, membedah bagaimana kolesterol dan hipertensi menuntut kepatuhan minum obat seumur hidup. Ia menguliti bahaya diabetes—sang silent killer—yang bekerja secara senyap menggerogoti organ vital mulai dari mata, ginjal, hingga paru-paru, tanpa disadari korban hingga tubuh mendadak susut. Narasi kesehatan preventif ini bukan sekadar imbauan moral lokal, melainkan irisan langsung dengan visi besar Presiden RI Prabowo Subianto. Tujuannya esensial: memangkas beban finansial negara di sektor kesehatan, meringankan beban BPJS, dan memastikan angka harapan hidup warga meningkat agar bisa lebih lama merajut kebersamaan dengan keluarga tercinta.
Di luar bilik pemeriksaan medis dan kantong-kantong beras sembako yang dibagikan, momentum seperempat abad ini juga menjadi corong penyampaian tiga maklumat penting dari Ketua Umum Partai Demokrat.
Pertama, orientasi ekonomi kerakyatan yang menuntut penciptaan lapangan kerja bagi kaum muda, keberpihakan pada UMKM, serta stabilitas harga kebutuhan pokok agar terjangkau oleh daya beli ibu rumah tangga. Kedua, penegakan keadilan sosial yang menolak keras hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Ketiga, seruan moral untuk mengawal netralitas aparatur negara—baik ASN, TNI, Polri, hingga penegak hukum—demi menjaga kemurnian demokrasi.
"Kegiatan ini bukan agenda musiman yang hanya muncul saat ulang tahun," tegas Cellica, menegaskan bahwa kehadiran struktur partai dari tingkat DPC, PAC, ranting, hingga simpatisan adalah ikhtiar permanen membersamai denyut hidup masyarakat Karawang.
Inovasi perayaan ini ditutup dengan sebuah simbul ekologis yang sarat makna: penyerahan 250 bibit pohon mangga secara simbolis kepada ibu Lurah setempat.
Angka 250 bukan sekadar hitungan matematis usia perak, melainkan cetak biru ketahanan pangan dan investasi hijau jangka panjang. Analogi politiknya tajam: sebagaimana partai yang berakar selama seperempat abad di sanubari rakyat, bibit-bibit mangga tersebut diproyeksikan tumbuh kokoh, menghijaukan kawasan, dan kelak menghasilkan buah manis yang dapat dinikmati lintas generasi.
Dipadukan dengan sesi edukasi GERMAS bersama Kementerian Kesehatan, perayaan di Gerai Tri Bisnis Center ini berhasil memecah kebuntuan tradisi politik lama. Demokrat mencoba membuktikan bahwa usia 25 tahun dirayakan bukan dengan pesta pora, melainkan dengan merawat raga rakyat, menghijaukan bumi, dan menjaga keadilan tetap bernyawa.
Penulis Kinah