Hukum Suara.com - CIKARANG — Ada dinamika tak biasa yang menyeruak di Kantor Samsat Kabupaten Bekasi, Cikarang, pada Rabu pagi (08/07/2026). Pemandangan klasik berupa deretan pemohon pajak berkulit legam dengan raut lelah serta tumpukan map yang menjepit berkas, mendadak berganti atmosfer. Hari itu, kaku dan jenuhnya ruang tunggu dilebur lewat sebuah aksi simpatik: "Polantas Menyapa".
Bukan sekadar jargon pemanis di papan pengumuman, program ini menghadirkan interaksi nyata. Pimpinan hingga personel Satlantas Polres Metro Bekasi sengaja keluar dari balik kenyamanan meja kerja mereka. Seragam polisi yang kerap dipandang berjarak, pagi itu menyusuri tiap jengkal barisan kursi antrean.
Langkah yang diambil Satlantas Polres Metro Bekasi ini menyasar akar masalah utama pelayanan publik: komunikasi satu arah. Daripada hanya menunggu di balik kaca loket, para petugas secara proaktif mendatangi warga satu per satu.
Dialog-dialog kecil terjalin secara alami di antara deretan kursi antrean:
Petugas menyelipkan sosialisasi tertib berlalu lintas tanpa kesan menggurui.
Warga diajak memahami alur pembayaran pajak digital yang kini tengah digenjot agar proses ke depan tak lagi memakan waktu.
Pemohon diberi ruang menyampaikan sumbatan informasi atau kendala administrasi yang selama ini kerap memicu prasangka.
"Kami tidak ingin pelayanan ini berjalan dingin dan mekanis. Warga datang membawa kewajiban, maka sudah sepatutnya kami menyambut dengan rasa hormat. Lewat Polantas Menyapa, kami menjemput bola—mendengar langsung apa yang perlu diperbaiki," ungkap salah satu perwira Polantas di lokasi.
Bagi warga Cikarang yang terbiasa dengan ritme kerja serba cepat, pendekatan humanis ini memberi penyegaran tersendiri. Kejutan kecil dirasakan para wajib pajak saat dihampiri petugas yang justru bertanya, "Apakah alurnya cukup jelas?" atau "Apakah ruang tunggunya cukup nyaman?"
Aksi sederhana ini membawa pesan mendalam. Di tengah gempuran modernisasi dan tuntutan transparansi, Samsat Kabupaten Bekasi bersama Satlantas Polres Metro Bekasi membuktikan bahwa perbaikan layanan tak selalu soal canggihnya aplikasi, melainkan juga tentang kembalinya sentuhan empati manusiawi dalam melayani masyarakat.
Penulis : Kinah
