Meninggalkan Pentungan Sanksi, Satgas Citarum Pilih Rangkul Ratusan Pengusaha Karawang

KARAWANG – Selama bertahun-tahun, hubungan antara industri dan pengawas lingkungan sering kali ibarat permainan kucing dan tikus. Sidak diidentikkan dengan ketegangan, sanksi, atau bahkan penutupan paksa. Namun, sebuah paradigma baru sedang ditulis di Karawang. Satgas Citarum Harum mencoba membalik narasi lama tersebut: mengubah ketakutan menjadi sebuah kolaborasi.

​Kamis (21/05/2026), aula Markas Komando Distrik Militer (Mako Kodim) 0604/Karawang mendadak riuh. Sebanyak 150 pelaku usaha dari berbagai sektor duduk satu meja dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karawang, camat, hingga kepala desa. Agenda mereka satu: meretas jalan keluar bagi penanganan limbah industri tanpa harus mengorbankan roda ekonomi.

​Bagi Komandan Satgas (Dansatgas) Citarum Harum, Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto, mengumpulkan ratusan pengusaha di markas militer bukanlah bentuk intimidasi pamer kekuatan. Sebaliknya, ini adalah ruang diplomasi terbuka.

​"Pertemuan ini adalah early warning sekaligus edukasi hulu. Kami ingin mendobrak stigma. Bisnis yang sehat secara finansial juga harus sehat secara ekologis. Kita tidak bisa lagi membersihkan Citarum di hilir jika keran pencemaran di hulu tidak kita benahi bersama," ujar Kolonel Inf Yanto Kusno dengan lugas.


​Bagaimana teori "pendekatan humanis" ini bekerja di lapangan? Efrian, Manager PT Advance Smelting sekaligus Pimpinan Media Suara Kita News, punya jawabannya. Tiga minggu lalu, pabriknya sempat dikejutkan oleh kedatangan mendadak tim Satgas Citarum.

​Dalam lanskap hukum lama, situasi ini biasanya memicu kepanikan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

​"Kami tidak dihakimi atau langsung disodori surat pelanggaran. Komunikasinya dua arah dan sangat teknis. Satgas memetakan di mana letak kelemahan sistem pengelolaan limbah kami dan memberikan solusinya," kenang Efrian kepada awak media

​Respons PT Advance Smelting pun tidak kalah progresif. Alih-alih mencari celah hukum untuk menghindar, mereka langsung mengambil tindakan nyata.

​"Rekomendasi teknis dari Satgas langsung kami eksekusi. Saat ini kami sedang mengebut pembangunan saluran air baru demi mengeliminasi total potensi pencemaran. Ini investasi jangka panjang untuk lingkungan," tambahnya

​Langkah taktis PT Advance Smelting ini memanen apresiasi dari Dansektor 10 Satgas Citarum Harum, Kolonel Inf Satyo Ariyanto. Ia menegaskan bahwa era jurnalisme penegakan hukum yang represif dan menakut-nakuti sudah usang. Industri tidak boleh diposisikan sebagai musuh alam, melainkan mitra yang harus dibina.

​"Kami datang ke pabrik-pabrik bukan untuk mencari-cari kesalahan, apalagi menakut-nakuti," tutur Kolonel Inf Satyo dengan nada persuasif. "Paradigmanya sudah bergeser ke solutive policing (pendekatan solutif). Kami mengajak pelaku usaha duduk bersama. Jika industri mereka bersih, kelangsungan bisnis mereka juga akan lebih berkelanjutan."


​Pertemuan tersebut tidak berakhir sebagai ruang diskusi tanpa arah. Acara dikunci lewat sebuah momentum simbolis yang kuat: penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh 150 pelaku usaha yang hadir.

​Goresan tinta di atas kertas putih ini bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan kontrak sosial baru. Sebuah segitiga emas koordinasi antara kekuatan militer, otoritas pemerintah daerah, dan kesadaran korporasi.

​Karawang hari ini sedang membuktikan bahwa menjaga aliran Sungai Citarum agar tetap "Harum" tidak lagi dilakukan dengan pentungan sanksi, melainkan dengan rangkulan kolaborasi.

  Penulis : Kinah