Gagasan 'From Classroom to Ecosystem': Saat Kampus, Industri, dan Pemkab Karawang Lepas Ego Sektoral



 Hukum Suara.com, KARAWANG — Selama ini, teori akademis kerap dituding jalan di tempat di dalam ruang kelas, sementara industri berjalan dengan iramanya sendiri. Sekat itulah yang coba diruntuhkan Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, saat membuka Seminar & Talkshow “From Classroom to Ecosystem”.

Acara tersebut tak sekadar menjadi panggung seremonial, melainkan forum strategis yang mempertemukan empat pilar pembangunan: akademisi, mahasiswa, pelaku industri, dan Pemerintah Daerah. Di hadapan ratusan peserta, Aep menegaskan bahwa Karawang membutuhkan lompatan berpikir—dari sekadar belajar teori menjadi pembentuk ekosistem bisnis nyata (From Theory to Real Business).

Sebagai daerah bertaraf industri raksasa sekaligus memiliki deretan kampus potensial, Karawang dinilai memiliki modal lengkap untuk maju. Namun, tanpa sinergi, potensi tersebut hanya akan berjalan sendiri-sendiri.

“Ilmu pengetahuan baru benar-benar bernyawa ketika ia mengakar dan berdampak di dunia nyata,” tegas Aep Syaepuloh.

Menurut Aep, kolaborasi antar-sektor harus diwujudkan dalam bentuk yang konkret:

  • Pertukaran Pengetahuan: Menghubungkan riset kampus dengan kebutuhan riset industri.

  • Membuka Jejaring: Memberikan akses bagi mahasiswa untuk terlibat dalam proyek riil.

  • Peluang Kerja Sama: Mendorong investasi dan inovasi lokal yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga Karawang.

Aep merumuskan tiga tahapan penting dalam membangun ekosistem ini: mengubah pengetahuan menjadi inovasi, mengasah inovasi menjadi kolaborasi, dan mematangkan kolaborasi menjadi kontribusi nyata.

Langkah ini diharapkan mampu menghapus ego sektoral yang selama ini menjadi penghambat akselerasi pembangunan daerah. Pembangunan modern tidak lagi bisa mengandalkan satu pihak semata.

Menutup arahannya, Bupati Karawang menyampaikan kutipan penegas yang menandai dimulainya babak baru sinergi lintas sektor di Karawang:

“Kalau ingin berjalan cepat, kita bisa berjalan sendiri. Tetapi jika ingin berjalan jauh, kita harus berjalan bersama.”

Penulis: Kinah