Lolos dari Jebakan Seremoni: Menakar Keberanian Bupati Aep Mengubah Wajah Desa Pejaten

 


Hukum Suara -com CIBUAYA, KARAWANG — Di tengah gemerlap panggung politik lokal yang sering kali membentangkan karpet merah hanya untuk tepuk tangan dan tumpukan plakat penghargaan, ada anomali menarik yang tengah berlangsung di pesisir utara Karawang. Di Desa Pejaten, Kecamatan Cibuaya, paradigma pembangunan yang kaku coba dibongkar hingga ke akarnya.

Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, datang bukan membawa angin segar janji manis, melainkan sebuah narasi yang tak biasa bagi kalangan pejabat: pengakuan jujur bahwa seremoni kerap meninabukokkan esensi pelayanan publik.

Bersama Ketua TP-PKK Kabupaten Karawang, Hj. Vida Syaepuloh, kehadiran pucuk pimpinan Karawang ini dalam pembukaan Gerakan Pangan Murah, Gerakan Tanam Cabai, dan Bazar UMKM di lokasi fokus (lokus) Program P2WKSS 2026 terasa amat kontras dengan kebiasaan pejabat pada umumnya.

"Bagi saya, program ini bukan sekadar tentang penilaian atau seremoni. Selama program tersebut memberikan manfaat dan menjawab kebutuhan masyarakat, maka harus kita jalankan," kata Aep di hadapan ratusan kader PKK dan warga setempat.

Pernyataan ini terasa menohok. Dalam istilah jurnalisme kebijakan publik, ini adalah statement politik yang menentang tradisi form over substance—sebuah penyakit birokrasi tua yang lebih sibuk mengejar nilai di atas kertas ketimbang kenyang di perut rakyat.

Menyasar Dapur dan Tunas Bangsa

Langkah di Pejaten menunjukkan pendekatan yang tak biasa. Alih-alih meresmikan proyek fisik bernilai fantastis tapi berjarak dari rakyat, Pemkab Karawang menyasar dua titik paling sensitif dalam ekonomi rumah tangga: pangan dan pendidikan dasar.

  • Kedaulatan dari Pekarangan: Lewat gerakan tanam cabai dan bazar murah, warga didorong berdikari. Di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok, pekarangan rumah disulap menjadi benteng pertahanan gizi dan inflasi keluarga.

  • Investasi Usia Dini: Percepatan penyelesaian sarana PAUD di pelosok Cibuaya menjadi bukti bahwa pembangunan tidak boleh 'anak-emaskan' wilayah perkotaan. Anak-anak pesisir berhak atas ruang belajar yang aman dan layak sejak langkah pertama mereka mengenal dunia.

Sinergi Akar Rumput

Penulis : Kinah